Rabu, 16 Januari 2013

KEPEMIMPINAN IMAM HASAN AL BANNA


PENDAHULUAN
BAB I
1.1 Latar belakang
Beliau adalah seorang besar yang mendapat taufiq dan tidak mahu menyalahi jalan yang benar. Beliau bukan sahaja menarik orang kepada agama, bahkan juga beliau telah mengisi hati kami dengan perasaan cinta kepada Islam dan melebur kami laksana emas di dalam api, ke dalam acuan yang bersih. Hasan Al-Banna telah dibunuh orang pada suatu hari yang amat gelap dalam sejarah. Dengan kehilangannya maka kemanusiaan telah kehilangan seorang manusia yang jarang sekali  dilahirkan oleh zaman orang yang seperti beliau”.Pada 12 Februari 1949, Hasan Al-Banna telah ditembak ketika keluar dari bangunan Ikhwan Al Muslimin untuk menaiki kereta sewa dan beliau meninggal dunia di hospital beberapa ketika. Kematian Hasan Al-Banna telah dirancang oleh Polis Rahsia Kerajaan kerana menuntut bela atas kematian Perdana Menteri yang telah dibunuh oleh seorang mahasiswa yang bertindak atas daya usahanya sendiri kerana marahkan pembubaran Ikhwan Al Muslimin . 
Berdasarkan kepada petikan diatas menunjukkan Hasan Al-Banna sememangnya adalah tokoh yang amat penting ketika itu. Diantara tahun 1948-1954  merupakan tahap terpenting penglibatan ikhwan al-muslimin dalam proses politik di Mesir. Pada akhir tahun 1940-an dan awal 1950-an gerakan ini berjaya muncul sebagai sebuah organisasi yang paling mendapat sambutan rakyat mengatasi pengaruh yang sebelum ini secara tradisi dimonopoli oleh parti Ward terutama semasa Hasan Al-Banna masih hidup.Sebagai pengasas Ikhwan Al-Mukminin,Ketiadaannya untuk memimpin Ikhwan Al-Mukminin menjadi faktor utama meyebabkan Ikhwan Al-Mukminin gagal merebut kuasa politik Mesir pada tahun 1948-1954. Juga ditahun tersebut berlaku perubahan pentadbiran oleh sekumpulan pegawai tentera yang dikenali sebagai free officer yang bertindak merampas kuasa pimpinan Gamal Abdul Nasser iaitu seorang tokoh yang berjaya menyingkirkan rakan-rakan yang tidak sealiran dengannya dan yang paling penting, berjaya memusnahkan pengaruh Ikhwan Al-Muslimin. 
Kematian Hasan Al-Banna meninggalkan kesan yang amat besar terhadap corak dan nasib masa depan gerakan tersebut. Kekosongan pemimpin selepas kematiannya mencetuskan perebutan kuasa di kalangan pucuk pimpinan. Ini  sebabkan organisasi ini tidak begitu berkesan mendominasikan politik mesir. Malah Ikhwan Al-Muslimin memainkan peranan kecil dalam Revolusi Julai 1952.  Juga  Ikhwan Al-Muslimin menghadapi tekanan hebat dari pemerintah.
1.2  Batasan masalah
Dalam penyusunan tugas ini akan dibahas tentang
1.      Gaya kepemimpinan imam Hasan Al Banna ( kharismatik )
2.      Tipe kepemimpinan imam hasan al banna
3.      Sifat-sifat kepemimpinan imam hasan al banna
4.      Teori kepemimpinan yang digunakan imam Hasan Al Banna  (berdakwa)
5.      Kelebihanan imam Hasan Al Banna
6.      Kekurangan Hasan Al Banna dalam memimpin
7.      Riwayat hidup Hasan Al Banna

1.3  tujuan       
Tujuan dari tugas softskil ini yang berjudul “ kepemimpinan imam hasan al banna “ selain ditujukan sebagai tugas Mata Kuliah : Teori Organisasi Umum 1 juga sebagai media agar pembaca dapat mengerti tentang kepemimpinan seorang pemimpin islam imam hasan al banna


BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Gaya kepemimpinan imam Hasan Al Banna ( kharismatik )
Imam hasan al banna sejak kecil sudah mendisiplinkan diri mulai dari waktu hingga organisasi sekolahnya. Dia mempunyai bakat leadership yang cemerlang.  di setiap organisasi sekolah imam hasan al banna terpilih sebagai ketua organisasinya, salah satu organisasinya adalah organisasi menolak keharaman.  bahkan pada waktu berada di pendidikan smp, beliau telah mampu menyelesaikan masalah dewasa. Dari masa kecil tersebut kepemimpinan imam hasan al banna terlihat.  Jiwa kepemimpinan hasan al banna terus mengalir hingga dewasa. Sejak umur beliau 21 tahun, bersamaan dengan masa umat islam mengalami kegoncangan hebat. Beliau mulai memimpin untuk umat islam dengan menggunakan gaya kepemimpinan “kharismatik” yaitu Gaya kepemimpinan kharismatik merupakan gaya kepemimpinan yang tenang dan penuh kharisma atau daya tarik bagi anggota. Seorang pemimpin yang kharismatik memiliki wibawa yang tinggi di mata semua anggota sehingga semua anggota merasa tertarik dan senang bekerja sama dalam menjalankan organisasi. Kepemimpinan ini yang digunakan hasan al banna untuk melawan penjajah yang mempermainkan umat islam dan mempertahan kan agama islam agar tidak runtuh.
2.2 Tipe kepemimpinan imam hasan al banna
Tipe kepemimpinan imam hasan al banna menjadi pemimpin yang kharismatik, karena beliau percaya pada dirinya sendiri bahwa umat islam tidak akan rapuh, dan dia juga mempercayai pengikutnya, karena mereka mempunyai kesanggupan dalam mempertahankan agama islam dengan baik dan bertanggung jawab. Tidak hanya itu imam hasan al banna juga memupuk rasa kekeluargaan dan persatuan dengan umat islam yang berada diseluruh dunia dengan senang tiasa membangun semangat dalam menjalankan dan mendakwakan agama islam keseluruh dunia. Kepemimpinan imam hasan al banna juga bersedia digantikan kepada pendakwa-pendakwa yang ingin menyebarkan agama islam

2.3 Sifat-sifat kepemimpinan imam hasan al banna
Dalam menegakan dan mempertahankan agama islam dari parah penjajah ( kaum kurais ). Dalam kepemimpinannya mempunyai sifat-sifat yang membuat parah pengikutnya menjadi lebih tegar dan kuat melawan penjajah. Sifat-sifat tersebut sebagai berikut :
1.      Mengutamakan kerjasama dalam mengajak manusia dalam memberantas kejahiliyaan.
2.      Berusaha agar pengikutnya lebih baik dan selalu melakukan kegiatan sesuai dengan al-quran .
3.      Mempunyai rasa simpati kepada pengikutnya
4.      Meberikan kebebasan kepada pengikutnya dalam mempertahankan agama islam sesuai dengan syariat islam dan aturan allah swt.

2.4 Teori kepemimpinan yang digunakan imam Hasan Al Banna  (berdakwa)
Semejak masa muda imam hasan al banna memiliki bakat leadership yang cemerlang.  Bahkan beliau terpilih sebagai ketua organisasinya disekolah. Pada usia 21 tahun beliau ditunjuk sebagai guru di isma’iliya, bersamaan dengan masa dimana umat islam diseluruh dunia mengalami goncangan dan keruntuhan.
Disitu mulailah hasan al banna dengan dakwanya, Dakwah mengajak manusia kepada Allah, mengajak manusia untuk memberantas kejahiliyahan (kebodohan). Dakwah beliau dimulai dengan menggalang beberapa muridnya. Kemudian beliau berdakwah di kedai-kedai kopi. Hal ini beliau lakukan teratur dua minggu sekali. Beliau dengan perkumpulan yang didirikannya “Al-Ikhwanul Muslimun” bekerja keras siang malam menulis pidato, mengadakan pembinaan, memimpin rapat pertemuan, dll. Dakwahnya mendapat sambutan luas di kalangan umat Islam Mesir. Tercatat kaum muslimin mulai dari golongan buruh/petani, usahawan, ilmuwan, ulama, dokter mendukung dakwah beliau.
Pada masa peperangan antara Arab dan Yahudi (sekitar tahun 45-an), beliau memobilisasi mujahid-mujahid binaannya. Dari seluruh Pasukan Gabungan Arab, hanya ada satu kelompok yang sangat ditakuti Yahudi, yaitu pasukan sukarela Ikhwan. Mujahidin sukarela itu terus merangsek maju, sampai akhirnya terjadilah aib besar yang mencoreng pemerintah Mesir.
Sampai akhirnya beliau berdakwa yang sifatnya internasional, bahkan pada saat Indonesia memproklamasikan kemerdekaan imam hasan al banna menyatakan dukunganya, sehingga kotak dengan ulama Indonesia pun terjalin.
2.5 Kelebihanan imam Hasan Al Banna
1.      Imam hasan al banna adalah ulama juga tokoh pemimpin islam dunia yang sangat legendaries.
2.      Imam hasan al banna adalah imam para dai di abat 20.
3.      Imam hasan al banna sebagai pembangun generasi yang baik.
4.      Imam hasan al banna mempunyai kedisiplinan yang sangat bagus dan juga mempunyai jiwa kepemimpinan.
5.      Imam hasan al banna mengajak umatnya untuk mendakwakan islam keseluruh dunia.
6.      Imam hasan al banna mempunya strategi yang sangat kuat untuk menjatuhkan lawan lawanya yang berani menghancurkan islam.
7.      Imam hasan al banna mempunyai perhatian yang sangat besar terhadap umat islam bahkan umat islam yang jauh dari negaranya.
2.6 Kekurangan Hasan Al Banna dalam memimpin
            Dari riwayat hidup yang saya baca tidak ada kekurangan, mungkin ini bukan kekurangan tetapi keterlambatan beliau pada saat umat isalam mengalamin goncangan penjajah mempermainkan dunia islam, puluhan ulama turki di jebol kepenjara, disitulah imam hasan al banna baru menjadi pemimpin bagi umat islam.
2.7 Riwayat hidup Hasan Al Banna
Imam Hasan bin Ahmad bin Abdurrahman Al-Banna lahir pada tahun 1906 M di daerah Mahmudiyah kota kecil dekat Iskandariyah Mesir. Ayahnya seorang ulama yang diakui keilmuannya oleh ulama lain. Disamping itu beliau bekerja sebagai tukang reparasi jam dan penjilidan buku sehingga ayahnya dikenal dengan julukan Asy-Syaikh As-Sa’ati.Lingkungan pedesaan yang jauh dari hiruk-pikuk suasana kota turut membantu perkembangan Hasan Al Banna. Sehingga dalam usia yang masih muda beliau sudah berhasil menghafal Al-Qur’an. Beliau disamping berguru pada ayahnya juga berguru pada ulama lain, sampai akhirnya mengantarkan beliau belajar di Universitas Darul Ulum Kairo.
Hasan kecil mendisiplinkan kegiatannya menjadi empat. Siang hari dipergunakannya untuk belajar di sekolah. Kemudian belajar membuat dan memperbaiki jam dengan orang tuanya hingga sore. Waktu sore hingga menjelang tidur digunakannya untuk mengulang pelajaran sekolah. Sementara membaca dan mengulang-ulang hafalan Al-Qur’an ia lakukan selesai shalat Shubuh. Maka tak mengherankan apabila Hasan al Banna mencetak berbagai prestasi gemilang di kemudian hari. Pada usia 14 tahun Hasan al Banna telah menghafal seluruh Al-Quran. Hasan Al Banna lulus dari sekolahnya dengan predikat terbaik di sekolahnya dan nomor lima terbaik di seluruh Mesir. Pada usia 16 tahun, ia telah menjadi mahasiswa di perguruan tinggi Darul Ulum.
Demikianlah sederet prestasi Hasan kecil. Selain prestasinya di bidang akademik, Ia juga memiliki bakat leadership yang cemerlang. Semenjak masa mudanya Hasan Al-Banna selalu terpilih untuk menjadi ketua organisasi siswa di sekolahnya. Bahkan pada waktu masih berada di jenjang pendidikan i’dadiyah (semacam SMP), beliau telah mampu menyelesaikan masalah secara dewasa, kisahnya begini:
Suatu siang, usai belajar di sekolah, sejumlah besar siswa berjalan melewati mushalla kampung. Hasan berada di antara mereka. Tatkala mereka berada di samping mushalla, maka adzan pun berkumandang. Saat itu, murid-murid segera menyerbu kolam air tempat berwudhu. Namun tiba-tiba saja datang sang imam dan mengusir murid-murid madrasah yang dianggap masih kanak-kanak itu. Rupanya, ia khawatir kalau-kalau mereka menghabiskan jatah air wudhu. Sebagian besar murid-murid itu berlarian menyingkir karena bentakan sang imam, sementara sebagian kecil bertahan di tempatnya. Mengalami peristiwa tersebut, al Banna lalu mengambil secarik kertas dan menulis uraian kalimat yang ditutup dengan satu ayat Al Qur’an, “Dan janganlah kamu mengusir orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan di petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaan-Nya.”(Q. S. Al-An’aam: 52).
Kertas itu dengan penuh hormat ia berikan kepada Syaikh Muhammad Sa’id, imam mushalla yang menghardik kawan-kawannya. Membaca surat Hasan al Banna hati sang imam tersentuh, hingga pada hari selanjutnya sikapnya berubah terhadap “rombongan anak-anak kecil” tersebut. Sementara para murid pun sepakat untuk mengisi kembali kolam tempat wudhu setiap mereka selesai shalat di mushalla. Bahkan para murid itu berinisiatif untuk mengumpulkan dana untuk membeli tikar mushalla.
Pada usia 21 tahun, Hasan Al Banna menamatkan studinya di Darul ‘Ulum dan ditunjuk menjadi guru di Isma’iliyah. Hasan Al Banna sangat prihatin dengan kelakuan Inggris yang memperbudak bangsanya. Masa itu adalah sebuah masa di mana umat Islam sedang mengalami kegoncangan hebat. Kekhalifahan Utsmaniyah (di Turki), sebagai pengayom umat Islam di seluruh dunia mengalami keruntuhan. Umat Islam mengalami kebingungan. Sementara kaum penjajah mempermainkan dunia Islam dengan seenaknya. Bahkan di Turki sendiri, Kemal Attaturk memberangus ajaran Islam di negaranya. Puluhan ulama Turki dijebloskan ke penjara. Demikianlah keadaan dunia Islam ketika al Banna berusia muda. Satu di antara penyebab kemunduran umat Islam adalah bahwa umat ini jahil (bodoh) terhadap ajaran Islam.
Maka mulailah Hasan al Banna dengan dakwahnya. Dakwah mengajak manusia kepada Allah, mengajak manusia untuk memberantas kejahiliyahan (kebodohan). Dakwah beliau dimulai dengan menggalang beberapa muridnya. Kemudian beliau berdakwah di kedai-kedai kopi. Hal ini beliau lakukan teratur dua minggu sekali. Beliau dengan perkumpulan yang didirikannya “Al-Ikhwanul Muslimun” bekerja keras siang malam menulis pidato, mengadakan pembinaan, memimpin rapat pertemuan, dll. Dakwahnya mendapat sambutan luas di kalangan umat Islam Mesir. Tercatat kaum muslimin mulai dari golongan buruh/petani, usahawan, ilmuwan, ulama, dokter mendukung dakwah beliau.
Pada masa peperangan antara Arab dan Yahudi (sekitar tahun 45-an), beliau memobilisasi mujahid-mujahid binaannya. Dari seluruh Pasukan Gabungan Arab, hanya ada satu kelompok yang sangat ditakuti Yahudi, yaitu pasukan sukarela Ikhwan. Mujahidin sukarela itu terus merangsek maju, sampai akhirnya terjadilah aib besar yang mencoreng pemerintah Mesir. Amerika Serikat, sobat kental Yahudi mengancam akan mengebom Mesir jika tidak menarik mujahidin Ikhwanul Muslimin. Maka terjadilah sebuah tragedi yang membuktikan betapa pengecutnya manusia. Ribuan mujahid Mesir ditarik ke belakang, kemudian dilucuti. Oleh siapa? Oleh pasukan pemerintah Mesir! Bahkan tidak itu saja, para mujahidin yang ikhlas ini lalu dijebloskan ke penjara-penjara militer. Bahkan beberapa waktu setelah itu Hasan al Banna, selaku pimpinan Ikhwanul Muslimin menemui syahidnya dalam sebuah peristiwa yang dirancang oleh musuh-musuh Allah.
Dakwah beliau bersifat internasional. Bahkan segera setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, Hasan al Banna segera menyatakan dukungannya. Kontak dengan tokoh ulama Indonesia pun dijalin. Tercatat M. Natsir pernah berpidato didepan rapat Ikhwanul Muslimin. (catatan : M. Natsir di kemudian hari menjadi PM Indonesia ketika RIS berubah kembali menjadi negara kesatuan).Syahidnya Hasan Al-Banna tidak berarti surutnya dakwah beliau. Sudah menjadi kehendak Allah, bahwa kapan pun dan di mana pun dakwah Islam tidak akan pernah berhenti, meskipun musuh-musuh Islam sekuat tenaga berusaha memadamkannya.
Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci. (Q. S. Ash-Shaff: 8)Masa-masa sepeninggal Hasan Al-Banna, adalah masa-masa penuh cobaan untuk umat Islam di Mesir. Banyak murid-murid beliau yang disiksa, dijebloskan ke penjara, bahkan dihukum mati, terutama ketika Mesir di perintah oleh Jamal Abdul Naseer, seorang diktator yang condong ke Sovyet. Banyak pula murid beliau yang terpaksa mengungsi ke luar negeri, bahkan ke Eropa. Pengungsian bagi mereka bukanlah suatu yang disesali. Bagi mereka di mana pun adalah bumi Allah, di mana pun adalah lahan dakwah. Para pengamat mensinyalir, dakwah Islam di Barat tidaklah terlepas dari jerih payah mereka. Demikianlah, siksaan, tekanan, pembunuhan tidak akan memadamkan cahaya Allah. Bahkan semuanya seakan-akan menjadi penyubur dakwah itu sendiri, sehingga dakwah Islam makin tersebar luas. Di antara karya penerus perjuangan beliau yang terkenal adalah Fi Dzilaalil Qur’an (di bawah lindungan Al-Qur’an) karya Sayyid Quthb. Sebuah kitab tafsir Al-Qur’an yang sangat berbobot di jaman kontemporer ini. Ulama-ulama kita pun menjadikannya sebagai rujukan terjemahan Al-Qur’an dalam Bahasa Indonesia. Di antaranya adalah Al-Qu’an dan Terjemahannya keluaran Depag RI, kemudian Tafsir Al-Azhar karya seorang ulama Indonesia Buya Hamka. Mengenal sosok beliau akanlah terasa komplit apabila kita mengetahui prinsip dan keyakinan beliau.
Berikut ini adalah prinsip-prinsip yang senantiasa beliau pegang teguh dalam dakwahnya:
1.      Saya meyakini: “Sesungguhnya segala urusan bagi Allah. Nabi Muhammad SAW junjungan kita, penutup para Rasul yang diutus untuk seluruh umat manusia. Sesungguhnya hari pembalasan itu haq (akan datang). Al-Qur’an itu Kitabullah. Islam itu perundang-undangan yang lengkap untuk mengatur kehidupan dunia akhirat.”
2.      Saya berjanji: “Akan mengarahkan diri saya sesuai dengan Al-Qur’an dan berpegang teguh dengan sunah suci. Saya akan mempelajari Sirah Nabi dan para sahabat yang mulia.”
3.      Saya meyakini: “Sesungguhnya istiqomah, kemuliaan dan ilmu bagian dari sendi Islam.”
4.      Saya berjanji: “Akan menjadi orang yang istiqomah yang menunaikan ibadah serta menjauhi segala kemunkaran. Menghiasi diri dengan akhlak-akhlak mulia dan meninggalkan akhlak-akhlak yang buruk. Memilih dan membiasakan diri dengan kebiasaan-kebiasaan islami semampu saya. Mengutamakan kekeluargaan dan kasih sayang dalam berhukum dan di pengadilan. Tidak akan pergi ke pengadilan kecuali jika terpaksa, akan selalu mengumandangkan syiar-syiar islam dan bahasanya. Berusaha menyebarkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat untuk seluruh lapisan umat ini.”
5.      Saya meyakini: “Seorang muslim dituntut untuk bekerja dan mencari nafkah, di dalam hartanya yang diusahakan itu ada haq dan wajib dikeluarkan untuk orang yang membutuhkan dan orang yang tidak punya.
6.      Saya berjanji: “Akan berusaha untuk penghidupan saya dan berhemat untuk masa depan saya. Akan menunaikan zakat harta dan menyisihkan sebagian dari usaha itu untuk kegiatan-kegiatan kebajikan. Akan menyokong semua proyek ekonomi yang islami, dan bermanfaat serta mengutamakan hasil-hasil produksi dalam negeri dan negara Islam lainnya. Tidak akan melakukan transaksi riba dalam semua urusan dan tidak melibatkan diri dalam kemewahan yang diatas kemampuan saya.”
7.      Saya meyakini: “Seorang muslim bertanggung jawab terhadap keluarganya, diantara kewajibannya menjaga kesehatan, aqidah dan akhlak mereka.”
8.      Saya berjanji: “Akan bekerja untuk itu dengan segala upaya. Akan menyiarkan ajaran-ajaran islam pada seluruh keluarga saya, dengan pelajaran-pelajaran islami. Tidak akan memasukkan anak-anak saya ke sekolah yang tidak dapat menjaga aqidah dan akhlak mereka. Akan menolak seluruh media massa, buletin-buletin dan buku-buku serta tidak berhubungan dengan perkumpulan-perkumpulan yang tidak berorientasi pada ajaran Islam.”
9.      Saya meyakini: “Di antara kewajiban seorang muslim menghidupkan kembali kejayaan Islam dengan membangkitkan bangsanya dan mengembalikan syariatnya, panji-panji islam harus menjadi panutan umat manusia. Tugas seorang muslim mendidik masyarakat dunia menurut prinsip-prinsip Islam.”
10.  Saya berjanji: “Akan bersungguh-sungguh dalam menjalankan risalah ini selama hidupku dan mengorbankan segala yang saya miliki demi terlaksananya misi (risalah) tersebut.”
11.  Saya meyakini: “Bahwa kaum muslim adalah umat yang satu, yang diikat dalam satu aqidah islam, bahwa islam yang memerintahkan pemelukya untuk berbuat baik (ihsan) kepada seluruh manusia.”
12.  Saya berjanji: “Akan mengerahkan segenap upaya untuk menguatkan ikatan persaudaraan antara kaum muslimin dan mengikis perpecahan dan sengketa di antara golongan-golongan mereka.”
13.  Saya meyakini: “Sesungguhnya rahasia kemunduran umat Islam, karena jauhnya mereka dari “dien” (agama) mereka, dan hal yang mendasar dari perbaikan itu adalah kembali kepada pengajaran Islam dan hukum-hukumnya, itu semua mungkin apabila setiap kaum muslimin bekerja untuk itu.”
Semangat keislamannya sudah tumbuh semenjak kecil. Beliau sangat rajin ibadah dan suka mengunjungi para ulama untuk berdiskusi tentang masalah agama dan problematika umat. Sehingga tidak aneh para ulama dan gurunya sangat mencintai beliau dan menaruh harapan yang besar terhadap Hasan Al-Banna. Kegundahannya terhadap kemaksiatan menyebabkan Hasan Al-Banna kecil bersama teman-temannya membuat organisasi Menolak Keharaman. Dan diantara aktivitasnya, mengingatkan umat Islam yang melakukan dosa dan meninggalkan kewajiban Islam seperti shalat, puasa, dan lain-lain. Hasan Al-Banna juga punya kegiatan yang dilakukannya ketika masih kecil, yaitu membangun-bangunkan orang tidur dari rumah ke rumah untuk shalat Subuh berjamaah di masjid.
Berkata ulama India Abul Hasan Ali Al-Hasani An-Nadawi tentang imam Hasan Al Banna, ”Kehadirannya cukup mengejutkan Mesir, dunia Arab dan dunia Islam secara keseluruhan. Semua terkejut oleh dakwah, tarbiyah, jihad dan kekuatannya yang unik. Allah telah mengumpulkan pada dirinya berbagai kemampuan yang kadang-kadang tampak kontradiktif di mata psikolog, sejarawan, dan kritikus, yaitu pemikiran yang brilian, pemahaman yang cemerlang, wawasan yang luas, perasaan yang kuat, hati yang penuh berkah, semangat yang membara, lisan yang fasih, zuhud dan qanaah –tanpa menyiksa diri– dalam kehidupan pribadinya. Cita-cita dan kepedulian yang tinggi dalam menyebarkan da’wah.” Perhatian Hasan Al Banna terhadap Islam dan umat Islam sangat besar termasuk umat Islam yang jauh dari Mesir, seperti Indonesia. Hal ini yang menjadikan beliau memimpin sendiri Komite Solidaritas bagi Kemerdekaan Indonesia. Dan utusan Indonesia yang berkunjung ke Mesir saat itu, yaitu H. Agus Salim, Dr. H.M. Rasyidi, M. Zein Hasan dan lain-lain, mengucapkan terima kasih kepada Hasan Al-Banna atas dukungan untuk kemerdekaan Indonesia.
Imam Hasan Al Banna berpesan kepada pengikut-pengikutnya, ”Anda sekalian adalah ruh baru yang mengalir dalam jasad umat ini.” Dakwah dan jihad Hasan Al-Banna membuat kecut thaghut (penguasa yang lalim) yang hidup pada masa beliau. Tidak ada cara lain kecuali memusnahkan dakwah Hasan Al Banna. Tepat di depan kantor Organisasi Pemuda Islam yang didirikannya, Hasan-Al Banna ditembak. Sebagian pelaku membawa Hasan Al-Banna ke rumah sakit dan meminta kepada penjaga rumah sakit untuk membiarkannya tanpa penanganan medis.Sampai setelah dua jam tanpa pertolongan medis, Hasal Al-Banna meninggal dunia. Tahun itu tahun 1949 M. Hasan Al-Banna dishalatkan oleh ayahnya yang sudah sepuh dan 4 orang wanita. Begitulah Hasan Al-Banna yang hidup untuk Islam dan umat Islam. Meninggal akibat konspirasi yang menginginkan dakwahnya redup. Tetapi kematiannya tidak membuatnya mati. Dakwahnya tetap hidup dan namanya tetap harum. Pendukung gerakan dakwahnya semakin banyak. Perjuangannya membangun Ikhwanul Muslimin diteruskan oleh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi.



BAB III
KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan
Konsep kepemimpinan yang dibangun imam hasan al bannna merupakan prinsip kebenaran dan yang lainya adalah prinsip kebatilan.  Kepemimpinan yang diciptakan beliau adalah sehat jasmani dan rohani, adil sholeh, jujur, cerdas serta mempunyai kapabilitas untuk memimpin. Kepemimpinanya menggan menggunakan metode dakwa organisasi keagamaan yang didirikan dengan sebutan (ikhwanul muslimin) bertujuan untuk mengembalikan ajaran-ajaran serta hukum-hukum islam dalam kehidupan yang berdasarkan al-quran dan hadis sebagai salah satu spirit dan jatuhnya umat islam dari agama. Istiqomah sebagai landasan sebagai perjuangan walaupun nyawa sebagai taruhanya, sehingga lahir ruh jihad yang membara untuk membina umat islam dengan keikhlasan.
Sebagai tokoh kharismatik yang berhasil membina umat dan membentuk wadah organisasi dakwa keseluruh dunia sampai saat ini yang tak lain adalah tradisi penegakan islam menjadi gerakan berbasis konsep khalifah memalaui ikhwanul muslimin. Beberapa hal yang menjadi catatan penting beliau juga memimpin sebuah revolusi dalam teori kepemimpinan yang coba di aplikasikan untuk kemasalahan umat islam.





BAB IV
Daftar Pustaka
Sumber
http://jihadsabiluna.wordpress.com/2008/01/08/riwayat-hidup-hasan-albanna/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar